Rayonisasi Boleh Saja, Asal…

Rayonisasi Boleh Saja, Asal…

Kementerian BUMN yang membawahi perusahaan pupuk milik negara memberlakukan aturan pembatasan wilayah atau rayonisasi dalam penyaluran pupuk bersubsidi di berbagai daerah. Tujuannya untuk menghindari tumpang tindih dalam pendistribusian sarana produksi pertanian tersebut. Dengan pemberlakuan rayonisasi atau pembatasan wilayah, tang gung jawab penyaluran pupuk tersebut dalam satu wilayah pertanian menjadi tanggung jawab satu pabrik pupuk. Misalnya, wilayah Jawa Barat ditangani PT Pupuk Kujang yang berlokasi di Cikampek, Karawang. Kebijakan rayonisasi tersebut berimbas pada ketersediaan pupuk dasar yang biasa digunakan petani. Sebagai contoh, petani di Subang, Jawa Barat yang selama ini terbiasa menggunakan pupuk produksi PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur, sekara ng harus membeli pupuk keluaran PT Kujang di Karawang, Jawa Barat.

Kualitas

Menanggapi hal itu, Abdul Sakur Hafidz, petani padi asal Pamanukan, Subang, mengaku terpaksa mengikuti aturan rayonisasi. Sebelum ada aturan ini, dia selalu menggunakan pupuk Phonska buatan PT Petrokimia, Gresik, Jawa Timur. Namun kini mau tidak mau dia harus membeli pupuk Phonska produksi PT Pupuk Kujang yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan petani di Jawa Barat. Abdul menganggap, ada perbedaan kualitas pada pupuk buatan dua anak perusahaan PT Pupuk Indonesia Holding Company Tbk itu. “Pupuk Phonska yang dari Kujang, kalau disimpan lama jadi lembek, tidak seperti milik Petro yang makin lama mengeras,” ujarnya kepada AGRINA (25/1). Begitu pula H. Addin, petani asal Desa Bayalangu, Kec. Gegesik, Kab. Cirebon, ia merasa dibohongi dengan pupuk Phonska yang kualitasnya tidak memu askan.

Pupuk yang didapatkannya sekarang ada yang basah, kering, bahkan menggumpal seperti batu. Ia menduga, kemung kinan hal ini disebabkan karena faktor cara pengiriman dan penyimpanan. Menurut Abdul, kelebihan pupuk dari Petrokimia memiliki kandungan Sulfur, sedangkan pupuk Kujang tidak ada. “Ya pada waktu itu, petani tetap cari yang dari Petro walaupun kadang harga pembeliannya lebih mahal,” papar petani yang menanam varietas padi IR 42, inpari 30, dan ketan di lahan seluas 5,5 ha miliknya. “Phonska itu harusnya ada Fosfor, Nitrogen, Sulfur, dan Kalium, tapi yang sekarang tidak ada Sulfurnya jadi bukan Phonska tapi Phonka,” sambung Addin sambil tertawa. Karena itu, ia harus membeli lagi pupuk ZA untuk memenuhi kebutuhan sulfur bagi tanamannya.

Selain itu, Addin memperhatikan penampakan fisik pupuk Phonska yang warnanya berbeda-beda. “Ada yang merah muda, merah tua, kehitaman, terus ada yang luntur di tangan,” komentar petani yang kurang lebih 10 tahun sudah terjun ke sawah ini. “Saya tidak tahu apakah ini sesuai standar atau dibawah standar. Harus ada penelitian lagi, uji laboratorium,” imbuhnya.