Melongok Sentra Pembenihan Jagung di Solok

Melongok Sentra Pembenihan Jagung di Solok

Siapa mengira jika di tepian Danau Singkarak nan indah tertanam be – nih-benih jagung hibrida berkualitas tinggi besutan anak negeri. Mari singgah ke Ampang Kualo, Kel. Kampung Jawa, Kec. Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumbar. Kita akan menemui PT Citra Nusantara Mandiri Solok (CNMS), perusahaan padat karya yang memproduksi benih jagung hibrida sejak 2001.

Teknologi Sederhana

Budi Setyawan, Komisaris Utama CNMS menjelaskan, CNMS yang berdiri pada 1999 dengan nama PT Andalas Agroindo Mandiri itu pertama kali meluncurkan benih jagung hibrida varietas A4 pada 2001. Hingga kini sudah 6 varietas benih hibrida yang dirilis, yaitu A 4, NT 10, N 35, N 37, NT 104, dan NT 105. “Kapasitas produksi sekitar 5.400 ton benih/ tahun,” katanya.

Pada 2005 Anda – las berganti nama menjadi CNMS de – ngan tujuan mewujudkan bangsa yang mandiri dan berdaulat pangan. “Untuk negara bisa berdaulat, pangannya harus berdau – lat. Kedaulatan pa – ngan itu awalnya ya kedaulatan benih. Kalau benih sudah berdaulat, belum tentu kita berdaulat secara pangan. Tapi kalau benihnya hancur, pasti kedaulatan pangan hancur. Jadi, kedaulatan pangan harus diawali kedau – latan benih. Kedaulatan pangan akan ber muara pada kedaulatan nasional,” papar Budi.

Perusahaan yang berdiri di atas lahan seluas 5 ha ini, lanjutnya, memproduksi benih jagung dengan teknologi sederhana dan melibatkan banyak tenaga kerja (labour intensive). CNMS bekerja sama dengan 4.000 petani penangkar benih dan ratusan masyarakat sekitar untuk memipil dan menyortir benih jagung sampai siap kemas.

Benih jagung dibeli dari petani penangkar dalam bentuk lepas klobot berkadar air 32%. Jagung itu lantas dikeringkan di lantai jemur beratap plastik selama 3-4 hari. Budi menerangkan, sinar matahari menembus atap menuju lantai jemur dalam bentuk gelombang transfersal. Panas matahari ini dialirkan ke seluruh ruangan dalam bentuk gelombang longitudinal. Udara panas terakumulasi dan menyebar merata ke seluruh ruang serta tetap bertahan hingga malam hari. Dengan cara itu, suhu di dalam lantai jemur Pembenihan jagung membantu mengatasi permasalahan utama petani. Jagung dijemur di lantai jemur beratap plastik selama 3-4 hari H. SYUKRI SUID dan BUDI SETYAWAN (kiri-kanan), CNMS membantu kedaulatan pangan dan memberikan solusi buat petani SYATRYA UTAMA SYATRYA UTAMA AGRINA LO 277.qxp_Layout 1 7/13/17 9:56 PM Page 22 277 – Juli 2017 Agrina 23 lebih panas daripada di luar ruang. Selepas empat hari kadar air jagung pun turun menjadi 16%-14%.

Pengeringan

Selepas penjemuran, Adam Triguritno, Manajer Produksi CNMS menuturkan, benih jagung disortir untuk membuang rambut dan bulir-bulir yang rusak lalu di pipil dengan cara memarutnya pada alat serupa papan penggilasan untuk mencuci baju. Setiap hari setidaknya ada 30 ton tongkol jagung yang harus dipipil dan menghasilkan rendemen pipilan sebanyak 48%. Pemipil memperoleh bayaran sekitar Rp250/kg. “Rata-rata setiap orang dapat 200 kg/hari,” ucapnya.

Jagung lantas ditimbang kemudian dikeringkan dengan pengering berbentuk kotak (box dryer) berkapasitas 2-3 ton/unit selama tiga hari hingga kadar airnya tinggal 11%. Setiap 12 jam pengeringan di hentikan untuk mengecek kadar air. Sebelum dikemas, benih kembali dibersihkan dari kulit air dan disortir berdasarkan ukur an. Benih yang tidak masuk kategori dijual untuk pakan ayam.

Benih siap kemas diuji sampel oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Dua minggu setelahnya hasil uji sertifikasi keluar. Benih yang lulus uji pun siap dikirimkan ke konsumen. Sejak penanaman hingga siap kirim, Adam menambahkan, memerlukan waktu sekitar 4 bulan untuk memproduksi benih jagung.

Solusi Buat Petani

H. Syukri Suid, Direktur Utama CNMS menjelaskan, petani Indonesia menghadapi tiga kendala utama da lam budidaya, yaitu sumber daya manusia (SDM) minim pengetahuan, kekurangan mo dal, dan kesulitan pema saran. Keha diran CNMS yang bermitra dengan petani, mem bantu mengatasi permasalahan itu.

“SDM-nya dipandu oleh petugas kita. Modalnya di pinjamkan tanpa bunga. Ka lau ga gal atau (tertimpa) mu sibah alam seperti banjir, ke keringan, longsor itu dipu tih kan. Pa sarnya sebelum dita nam sudah dipastikan harganya,” ungkap Syukri.

Petani mitra terlebih dahulu menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan sebelum menanam calon benih jagung. “Jadi, nanti nggak ada yang kecewa,” jelas dia.

Menurut Amrizal, petani penangkar benih jagung binaan CNMS sejak 2004, budidaya benih jagung lebih menguntungkan daripada budidaya jagung konsumsi tetapi butuh lebih banyak ilmu. “Pertama, penangkaran itu harganya (benih) mahal, kedua bisa panen tiga kali setahun di lahan yang sama,” ulas Aam, sapaannya. Selain itu, pe nangkar juga memperoleh benih gratis, bantuan pupuk, dan karung untuk panen dari perusahaan.

Sedangkan Ngatderi, pembudidaya jagung di Kel. Setiung, Kec. Setiung I, Kab. Damasraya, Sumbar menuturkan, benih jagung CNMS menghasilkan produksi tinggi. Ia bisa memanen sekitar 4,5 ton jagung pipilan kering dari lahan seluas 0,5 ha. “Benih itu harganya murah, tongkolnya besar-besar, dan jagungnya mentes, nggak ada yang ompong,” kata pengguna benih CNMS sejak 2005 itu.

Sebelumnya, Ngatderi menggunakan benih jagung komposit dengan hasil seki tar 3 ton per setengah ha. Ia juga pernah mencoba benih hibrida lain. Namun, “Bibit lain itu kurang begitu bagus hasilnya. Kalau dilihat penyakit ada, tonase tongkolnya juga kecil-kecil,” pungkasnya.